16 December 2012

Pendidikan yang Membebaskan (dari Totto Chan dan Freire) – Refleksi untuk Para Pendidik


By : Suwandi Suwee

Ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya, agak lebih panjang dari sebelumnya, semoga tidak bosan membacanya J, masih bicara tentang pendidikan “anti mainstream” (istilah yang lagi trend saat ini) yang mencoba mendobrak pendidikan ala kapitalistik modern dengan pendidikan yang membebaskan dan menyentuh nilai-nilai humanis. jika sebelumnya saya hanya bicara prolog bahwa trend sekolah alternatif kini mulai menggeliat seiring dengan akumulasi kecemasan public atas persoalan pendidikan yang dalam bahasa Freire dinyatakan sebagai pabrik pencetak para penindas. untuk kali ini saya akan berbagi bagaimana sebenarnya pendidikan yang membebaskan itu berdasarkan perspektif tetsuko kuroyanagi dalam bukunya totto chan dan pemikiran Freire yang banyak mengilhami lahirnya sekolah-sekolah alternatif saat ini.
 
Saya ingin memulai dengan satu realitas yang mungkin berlaku untuk sebagian besar kasus walaupun tidak bisa dianggap bersifat keseluruhan bahwa saat ini pendidikan disekolah hanyalah proses transfer belaka. Anak-anak yang dianggap tak tahu diisi kepalanya oleh pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki guru. Jika saja ada anak yang menolak karena berpikir  ia tak butuh, atau apa yang dikatakan guru salah, siap-siap saja dikucilkan. Guru bak manusia ½ dewa!” realitas ini kemudian coba diketengahkan tetsuko kuroyanagi dalam novelnya Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, novel ini adalah kisah nyata masa kecil tetsuko saat bersekolah di sebuah sekolah “unik” bernama tomoe gakuen di Tokyo, jepang. sebelum perang dunia kedua.

 
Tetsuko bercerita tentang masa kecilnya, betapa dia dianggap sebagai anak yang nakal sebelum sekolah di tomoe, bahkan kemudian dia dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap sebagai anak yang nakal dan tidak bisa diatur. Totto chan memang anak yang lincah dan memiliki keingintahuan yang besar, keingintahuannya ini mendorongnya untuk mengeksplorasi segala sesuatu disekelilingnya. Hal ini tidak benar-benar dipahami oleh guru kelas totto chan yang menganggap itu sebagai sebuah masalah hingga dia harus dikeluarkan, dan mama (ibu totto chan) kemudian memindahkan totto chan ke tomoe gakuen, dan disinilah kisah hebat itu dimulai.
 
Tomoe gakuen adalah sekolah yang unik, gedung Tomoe gakuen terdiri dari gerbong kereta api yang sudah tak terpakai lagi. Sang Kepala sekolah, Mr. Kobayashi, tampaknya sengaja melakukan ini, menyiratkan: di mana saja kita bisa belajar, tak terkecuali di dalam gerbong kereta api. Tidak hanya ruang kelasnya, Tomoe Gakuen juga menerapkan pola pengajaran yang berbeda dari sekolah kebanyakan. Semua siswa diizinkan untuk mengubah urutan pelajaran sesuka hatinya. Di sana, anak-anak juga bebas mau belajar apa. Totto-Chan boleh memilih pelajaran seni rupa terlebih dahulu, sementara kawan-kawannya mengambil pejaran yang lain. Tak ada masalah. Dan selama belajar guru hadir bukan sebagai orang yang maha tahu, tapi sama-sama belajar, berdialog, tentang pelajaran apa yang mereka lakukan hari itu. Kepala sekolah dan gurupun lebih menekankan pada pengalaman langsung sehingga pembelajaran kerap dilakukan di luar kelas. Disalah satu bagiannya diceritakan sang guru mengajak anak-anak berjalan-jalan setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Hal yang menarik adalah guru menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan sejarah dan biologi kepada siswa-siswanya dengan cara yang menyenangkan. Di bagian lain, siswa belajar bercocok tanam di ladang ataupun mengunjungi rumah sakit untuk menghibur korban perang. Adapula bagian dimana kepala sekolah sengaja membiarkan para siswa berenang tanpa pakaian di kolam renang atau merancang sebuah kompetisi olah raga untuk meningkatkan kepercayaan diri Yasuaki Chan yang mengalami kelainan fisik. Totto chan dan teman-temannya tidak hanya belajar tentang pengetahuan akademik tetapi juga tentang persahabatan dan kemanusiaan.
 
Kepala sekolah, Mr Kobayashi adalah sosok yang sangat mencintai pendidikan dan anak didiknya. Gagasan-gagasan uniknya merupakan manifetasi dari pemahamannya yang mendalam tentang psikologi perkembangan anak, euritmik salah satunya. dalam buku ini disampaikan dengan lugas betapa besarnya peran seorang pendidik amat mempengaruhi perkembangan jiwa seorang anak. Selalu terngiang dalam pikiran Totto-Chan perkataan kepala sekolah Tomoe, “Totto-Chan, kamu benar-benar anak yang baik”. Kalimat ini diucapkan oleh kepala sekolah berulang-ulang sehingga membuat kepercayaan diri Totto-Chan tumbuh. Sikap kepala sekolah menjadikan Totto chan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan humanis.
 
Banyak sekali pesan tentang “pendidikan yang membebaskan” dalam novel tersebut, begitu juga dengan pemikiran filsafat Paulo Freire yang juga bicara tentang pendidikan yang membebaskan, dalam praksis pendidikan menurut Freire,  pendidikan adalah proses menumbuhkan pemahaman kritis sehingga kaum tertindas mampu dengan dayanya keluar dari hegemoni para penindas dan manusia menjadi mahluk yang humanis. freire menilai bahwa pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Menurut freire sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah “bank” (banking concept of education), dimana pelajar diberikan ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi anak didik adalah obyek investasi dan sumber deposito potensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditi ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Deposito atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan yang diajarkan pada peserta didik. Anak didikpun lantas diperlakukan seperti ‘bejana kosong’ yang akan diisi, sebagai sarana tabungan atau penanaman modal ilmu pengetahuan yang akan dipetik hasilnya kelak. Jadi guru adalah subyek aktif, sedang anak didik adalah obyek pasif yang penurut, dan diperlakukan tidak berbeda atau menjadi bagian dari realitas dunia yang diajarkan kepada mereka, sebagai obyek ilmu pengetahuan teoritis yang tidak berkesadaran.
 
Dalam pandangan seperti tadi, pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi informasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan dihapalkan. Secara sederhana Freire menyusun daftar antagonisme pendidikan ‘gaya bank’ itu sebagai berikut : Pertama, Guru mengajar, murid belajar. Kedua, Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa – apa. Ketiga, Guru berfikir, murid difikirkan. Keempat, Guru bicara, murid mendengarkan. Kelima, Guru mengatur, murid diatur. Keenam, Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti. Ketujuh, Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya. Kedelapan, Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri. Kesembilan, Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid – murid. Kesepuluh, Guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya.
 
Oleh karena itu guru yang menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah jika murid-murid  kemudian mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototip manusia ideal yang harus ditiru, harus diteladani dalam semua hal. Implikasi lebih jauh adalah bahwa pada saatnya nanti murid-murid akan benar-benar menjadikan diri mereka sebagai duplikasi guru mereka dulu, dan pada saat itulah akan lahir lagi generasi baru manusia-manusia penindas. Jika di antara mereka ada yang menjadi guru atau pendidik, maka daur penindasan segera dimulai dalam dunia pendidikan, dan demikian terjadi seterusnya. pola pendidikan seperti itu paling jauh hanya akan mampu mengubah ‘penafsiran’ seseorang terhadap situasi yang dihadapinya, namun tidak akan mampu mengubah ‘realitas’ dirinya sendiri. Manusia menjadi penonton dan peniru, bukan pencipta.
 
Tak puas dengan pendidikan model ini, Freire menawarkan pendidikan hadap masalah. Anak didik menjadi subyek yang belajar, subyek yang bertindak dan berpikir, dan pada saat bersamaan berbicara menyatakan hasil tindakan dan buah pikirannya. Begitu pula sang guru. Jadi keduanya (murid dan guru) saling belajar satu sama lain, saling memanusiakan. Dalam proses ini, guru mengajukan bahan untuk dipertimbangkan oleh murid dan pertimbangan sang guru sendiri diuji kembali setelah dipertemukan dengan pertimbangan murid-murid, dan sebaliknya. Hubungan keduanyapun menjadi subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Obyek mereka, adalah realita. Maka terciptalah suasana dialogis yang bersifat intersubyektif untuk memahami suatu obyek bersama. Secara sekilas pendidikan ini menawarkan model dimana guru dan murid sama-sama belajar demi merumuskan dan memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Tak ada yang merasa lebih tahu, guru bisa menjadi murid, murid bisa menjadi guru. Dengan kata lain: semua orang itu guru.
 
Itulah kira-kira pendidikan yang membebaskan berdasarkan perspektif Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya Totto Chan dan Pemikiran filsafat Paulo Freire yang fenomenal, konsep ini kemudian menjadi inspirasi banyak gerakan pendidikan bernama sekolah alternatif. terlepas dari itu, Ini juga menjadi renungan bagi para pendidik untuk lebih melihat anak didik sebagai manusia yang utuh,hingga anak didik bisa merasakan kesenangan dalam aktivitas belajar yang mereka lakukan.  seperti mimpi Tetsuko Kuroyanagi ketika menulis Totto Chan, Tetsuko bermimpi tiap anak dapat merasakan apa yang ia rasakan ketika ia bersekolah di Tomoe Gakuen, sekolah yang membebaskan!!!
 
Bersambung…!!!
Intan Web Developer

A Wife and PhD candidate to-be in National Taiwan University of Science and Technology. Dreamer, Writer, Traveller, and Tech Addict. Like to travel everywhere and experience anything.

No comments:

Post a Comment

Anda bisa memasukkan komentar tentang postingan di sini...Terima Kasih ^.^