15 September 2015

Ketika 'Journal Paper' Ditolak untuk Pertama Kalinya


Email itu datang di saat yang tidak terduga. Malam hari saat aku sudah siap untuk tidur dan memasang alarm, email itu muncul di notifikasi handphone. Diam. Cuma itu yang bisa aku lakukan.

Sebenarnya, aku sudah paham kalau paper ditolak itu wajar, apalagi jika itu adalah submit pertama kali di jurnal yang sangat bagus pula. Aku sudah mempersiapkan mental untuk ini. Maka dari itu aku hanya diam saja. Tapi setelah itu...

Aku ingat beberapa hal yang sudah kulalui selama 2,5 tahun dalam proses menulis 1 research paper ini yang tidak lebih dari 15 halaman.

Sejak tahun 2012 aku masuk kuliah S2 di Taiwan. Masuk ke dalam lab seorang Prof yang memiliki bidang riset yang berbeda dengan ku karena Prof yang aku target tidak menerima mahasiswa internasional. Aku belajar dari nol tentang semua teori yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya selama aku S1. Aneh memang tapi itu yang terjadi.

Selama semester 1 aku berusaha keras bahkan sampai jarang ada waktu untuk jalan-jalan, tidak seperti teman-teman ku yang lainnya. Apalagi ditambah dengan Prof ku yang super sibuk. Email jarang dibalas. Tidak pernah menanyakan tentang progress riset ku sama sekali. Asisten nya yang disuruh untuk assist aku selama ini.

Setelah masa 2 tahun yang ku lalui dengan penuh keringat dan air mata, aku lulus dan melanjutkan S3. Optimis dengan keputusanku S3 di Taiwan karena aku menikah dengan seorang yang bekerja di Taiwan dan mimpiku untuk menjadi seorang dosen. Professor juga memintaku untuk memasukkan hasil riset ku ke dalam jurnal internasional.

Masalahnya, dia memintaku untuk mengubah model sebelumnya dan aku harus melakukan analisis kembali. Aku melakukan analisis dan memperbaiki paper ku selama kurang lebih 1 tahun sampai akhirnya aku memasukkan paper ini ke sebuah jurnal dengan index yang cukup tinggi. Di saat yang sama, dia menyuruhku untuk menaruh namanya sebagai penulis pertama.

Di dunia akademisi, penulis pertama berarti si pemberi ide, si penulis utama, si periset utama, dan apa apa lainnya yang pertama. Tapi, hal yang terjadi adalah beliau adalah sebagai si pemberi ide dan sang penolak model. Aku mengerti beliau Prof ku dan aku mahasiswa. Beliau adalah seseorang yang punya ilmu lebih dibandingkan aku. Tapi kesibukannya yang sangat padat, susahnya bertemu (tak jarang aku menunggu 3 bulan untuk bertemu dengannya), dan hal lain yang membuat ku ingin menjerit, serasa tidak sebanding dengan apa yang kulakukan selama ini. Mengerjakan sendirian segalanya mulai dari pembuatan model sampai penulisan research paper. Aku merasa, I deserve the first author of this paper.

Sebenarnya aku dibantu oleh asistennya. Asistennya ini yang menurutku memiliki kontribusi lebih dalam mengajariku berbagai hal sebelum hasilnya aku serahkan ke prof. Jadi saat itu aku berpikir mungkin lebih baik jika dia menjadi penulis kedua. Tak disangka, aku harus ikhlas untuk menjadi penulis ketiga. Alasan utama prof ku adalah karena dia yang berkontribusi dalam memberi ide.

Di sini lah kesabaran ku diuji dalam menghadapi prof yang seperti ini.

Di sisi lain, di saat yang sama, aku merasa "down" karena banyak teman ku yang mengatakan "Wah, intan keren yaa bisa S3. Habis ini jadi Doktor, trus jadi Professor."

Alhamdulillah aku diberi kesempatan luar biasa untuk sekolah S3 yang tidak semua orang dapatkan. Tapi orang-orang ini juga harus sadar bahwa S3 itu tidak mudah.

Bayangan orang Indonesia S3 itu pokoknya ngerjakan riset, masukin jurnal, sudah. Paling 3 tahun lulus. Kenyataannya, ya bisa jadi seperti itu. Tapi tidak seperti itu yang saat ini aku dan banyak mahasiswa S3 lainnya alami. Menulis riset itu tidak seperti menulis karya ilmiah untuk lomba tingkat S1. Tidak seperti tesis S2. Berbeda.

Harus melewati beberapa tahapan ilmiah. Setelah tahapan selesai dan paper siap di submit ke jurnal internasional, di situlah titik yang berada di luar kontrol kita sebagai penulis. Ibarat kata seperti anak SMA yang ikut UMPTN. Dia sudah belajar mati-matian selama sekolah lalu ikut tes. Babak penentuan adalah ketika usai tes dimana itu sudah di luar kontrol dia. Ada orang yang pintar luar biasa tapi UMPTN tidak lulus. Itulah yang dinamakan "luck" atau keberuntungan.

Submit paper butuh keberuntungan. Tapi tidak cukup dengan keberuntungan. Harus punya tips dan trik khusus. Inilah yang aku butuhkan. Biasanya mahasiswa S3 akan mengalami proses belajar tips trik ini setelah paper ditolak beberapa kali. hahaha

Kepala dan hati serasa lebih sakit daripada patah hati. It's a real serious problem for PhD student.

Tapi, aku sadar, ada hikmah di balik ini semua..setelah aku bertemu dengan profku yang entah ada angin apa langsung mengajak bertemu setelah 1 hari sebelumnya aku mengirimkan e-mail penolakan paper. Ini di luar kebiasaan. haha

Beliau mengatakan kepadaku kalimat yang terngiang-ngiang di kepalaku sampai saat ini.

"Don't be shocked. It's normal that your paper is rejected because you submit it in the highly prestige journal, which has high standard. You have to know their tricks and you will know after several times rejected by them. Don't panic! Learn and Fix your paper based on what the reviewer said on the rejection e-mail! You will learn more and more. Your english is good but you have to know how to write the paper just like the native speaker write their own paper."

Just like this PhD Comic below. hahahaha



You know what? It's a hard thing to do, Sir!
But I will do it. Aku akan melakukannya sebaik mungkin dan mencoba untuk yang terbaik!

Ini adalah sebuah learning process yang harus dijalani seorang mahasiswa S3 dimanapun dia berada apapun major riset mereka.

Hal lainnya adalah ketika seorang mahasiswa S3 harus me-reset otak mereka untuk berpikir bukan seperti mahasiswa S1 dan S2. Harus berpikir "out of the box" dan sesuatu yang baru. Seperti orang yang setelah putus cinta lalu berusaha bangkit dan mencari orang baru untuk dicintai serta tidak melihat masa lalu. hahaha Itu yang susah. Karena untuk mencari sesuatu yang baru berarti sama dengan harus mengerti semua penelitian di masa lalu dan mencari gap nya untuk diteliti.



For you all PhD students out there... remember that there's reason behind rejection which is Learning Process! We will deserve our graduation time with pride and beautiful knowledge when the time is coming!

For you who don't know what PhD life is, just shut up. Don't brag like you know every single thing, because you don't! ( I'm sorry if I'm too harsh, but I have to say that >.< )

Wanna see some cases how PhD students try to survive? you can check on PhD Comic Websites.






Intan Web Developer

A Wife and PhD candidate to-be in National Taiwan University of Science and Technology. Dreamer, Writer, Traveller, and Tech Addict. Like to travel everywhere and experience anything.

2 comments:

  1. Cerita seperti inilah yang dibutuhkan seorang calon mahasiswa S3. Bukan cerita tentang jalan-jalan, berfoto, upload sana dan sini. Thanks, Mbak.

    Tulisan pasti bermanfaat buat saya juga teman-teman calon mahasiswa S3. Ditunggu cerita-cerita behind-the-scene of being PhD Student. :D

    ReplyDelete
  2. Salam kenal mbak.. saya juga merasakan hal yang sama.. saya ambil phd engineering di Malaysia dan requirement nya high impact journal.. pertama ditolak get shocked bahkan ampe ditertawakan supervisor karena ditolak beberapa kali..hehe.. but keep trying to do the best.. bisa jadi plajaran ttg requirement dari high impact journal itu gmana.. keep struggle mbak.. insyAllah ada jalan.. ;)

    Farah

    ReplyDelete

Anda bisa memasukkan komentar tentang postingan di sini...Terima Kasih ^.^